Mencari Orientasi Pendidikan: Sebuah Perspektif Historis


Oleh: Thomas Hidya Tjaya

Kebanyakan universitas di Eropa Barat dan Amerika Serikat, khususnya yang sudah cukup tua, memiliki moto atau semboyan yang biasanya dapat dilihat pada logo universitas tersebut. Semboyan ini pada hakikatnya menunjukkan visi dan orientasi pendidikan yang ditekankan oleh institusi tersebut.

FORDHAM University, New York, misalnya, tempat penulis pernah belajar, memiliki semboyan Sapientia et Doctrina (Kebijaksanaan dan Doktrin). Kalau kita menengok logo Harvard University di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, kita akan menemukan Veritas (Kebenaran) sebagai motonya.

Akan tetapi, tidak jarang pula sekolah menengah dan bahkan sekolah dasar pun memiliki moto dan gagasan ideal yang dicoba dihayati dan dijunjung tinggi oleh para pendidik dan siswanya.

Beberapa ratus meter dari Kampus Harvard terdapat Sekolah Dasar St Peter dan semboyannya tertulis jelas pada tembok luar gedung sekolah, For God and Our Country (Untuk Allah dan Bangsa Kita). Meskipun lokasi kedua institusi pendidikan ini sangat berdekatan satu sama lain, tidak banyak orang lokal menyadari bahwa orientasi pendidikan mereka, yang terungkap dalam moto-moto tersebut, merupakan warisan dari dua gerakan pendidikan yang pernah muncul dari sejarah manusia dan yang sampai kini, dalam tingkat tertentu, masih mempengaruhi orientasi pendidikan universal manusia: yang satu berorientasi pada pencarian kebenaran, yang lain mengidealkan pengabdian kepada masyarakat banyak.

Dalam karangan ini penulis akan mengantar pembaca ke dalam perkembangan dan orientasi kedua tradisi pendidikan tersebut, yang dalam sejarah intelektual disebut ’skolastisisme’ dan ’humanisme’. Setelah sekilas memaparkan perbandingan di antara kedua tradisi ini, penulis akan menyajikan beberapa butir refleksi mengenai visi-visi pokok orientasi pendidikan mereka, yang barangkali berguna bagi pemikiran mengenai pendidikan di Indonesia.

Skolastisisme: Hasrat mencari kebenaran

Dalam dunia pendidikan, kita sudah biasa mendengar bahwa pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengajarkan kepada peserta didik berbagai kebenaran yang telah ditemukan oleh manusia, baik yang bersifat saintifik, filosofis, maupun religius. Tidak banyak orang menyadari bahwa tradisi dan institusi akademik seperti universitas yang kita miliki sekarang ini berasal dari dua perkembangan yang terjadi dalam zaman keemasan Abad Pertengahan di Eropa Barat.

Perkembangan pertama berkaitan dengan penyebaran tradisi filsafat Aristoteles (384-322 SM) ke dunia Barat. Berlainan dengan tradisi Byzantium dan Arab yang memiliki dan mempelajari banyak karya Aristoteles yang berupa koleksi bahan-bahan kuliah, tradisi Latin di Eropa Barat praktis terputus dari warisan filosofis zaman klasik ini. Tradisi Aristotelianisme berbahasa Latin ini praktis baru muncul pada permulaan abad kedua belas. Sebelumnya, hanya sedikit sekali karya terkenal para filsuf Yunani, termasuk karya Aristoteles, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

Para pemikir Barat dalam Abad Pertengahan hanya memiliki beberapa teks filsafat Yunani kuno, termasuk karya Aristoteles mengenai logika yang cukup terkenal itu. Keterbatasan akses inilah yang menyebabkan para filsuf Abad Pertengahan di Eropa Barat memusatkan perhatian mereka pada logika dan filsafat bahasa. Mereka mengenal karya-karya filsafat Yunani lainnya hanya secara tidak langsung, terutama karya-karya dalam tradisi Platonisme, yakni melalui tulisan-tulisan para pemikir Latin seperti Agustinus dan Boethius dalam zaman Romawi akhir.

Boethius (480-524 M) merupakan pengecualian penting dalam hal ini. Karena khawatir bahwa kemunduran vitalitas intelektual dalam zamannya akhirnya akan membuat generasinya yang berbahasa Latin dan kurang terdidik itu kehilangan kontak dengan warisan filsafat Yunani kuno, ia pun menerjemahkan karya-karya Aristoteles yang tersedia, misalnya teks mengenai logika, Categories (Kategori) dan On Interpretation (Mengenai Penafsiran).

Ia sangat terkesan dengan penggunaan pemikiran yang benar melalui silogisme dalam membuktikan kebenaran argumen teologis. Ia setuju dengan pandangan bahwa logika menyediakan jawaban terhadap setiap misteri eksistensi manusia. Bukunya yang terkenal, Consolation of Philosophy (Hiburan Filsafat), sangat populer dalam Abad Pertengahan, yang di kemudian hari sangat mempengaruhi munculnya minat terhadap filsafat.

Baru antara pertengahan abad kesebelas dan akhir abad ketiga belas, para pembaca di dunia Barat menikmati karya para filsuf dan ilmuwan Yunani secara lebih luas berkat adanya terjemahan baru dalam bahasa Latin dari bahasa Arab dan Yunani. Bersama dengan karya-karya Euclid, Ptolemeus, Galen, Hippokrates, dan sejumlah filsuf Neoplatonis, hampir semua karya Aristoteles beserta buku-buku komentar dalam bahasa Yunani dan Arab, khususnya karangan Ibn Sîna dan Ibn Rushd, menjadi sumber bacaan baru yang sangat menarik bagi pembaca berbahasa Latin.

Fenomena baru ini membakar semangat dan minat mereka yang memang sudah cukup besar terhadap filsafat dan sains. Teks-teks baru ini menjadi bahan komentar intelektual yang semakin canggih dan mendalam, yang kemudian segera dimasukkan ke dalam kurikulum inti universitas. Karena belum pernah menemukan sebuah sistem filosofis yang begitu luas dan canggih, dapat dipahami bahwa para filsuf dalam abad ketiga belas dan keempat belas menyebut Aristoteles sebagai ’Sang Filsuf’ (the Philosopher).

Untuk memahami lebih mendalam teks-teks baru ini, mereka biasanya merujuk pada terjemahan Latin dari karya-karya berbahasa Yunani dan Arab yang berisi komentar atas karya-karya Aristoteles. Mereka yang mempelajari teks-teks ini, berlainan dengan kelompok biarawan, masuk dalam kelompok yang disebut scholastici (scholars). Kelompok ini memperlihatkan hasrat untuk mengetahui kebenaran demi kebenaran itu sendiri, dan bukan sekadar untuk memperdalam hidup rohani.

Perkembangan kedua berkaitan dengan munculnya institusi pendidikan tinggi yang baru, yakni universitas. Institusi pendidikan dalam Abad Pertengahan dimulai dengan sekolah-sekolah monastik dan katedral, dan dalam abad kedua belas sekolah-sekolah ini menghasilkan universitas-universitas mereka yang pertama: Bologna, Salerno, Paris, Montpellier, dan Oxford.

Kata ’universitas’ sendiri pada dasarnya berarti sebuah perkumpulan (corporation) atau kelompok (guild). Dalam Abad Pertengahan yang memiliki begitu banyak bentuk hidup korporasi, makna istilah ’universitas’ perlahan-lahan dipersempit dan akhirnya hanya menunjuk secara eksklusif pada kelompok intelektual atau masyarakat pelajar dan pakar (universitas societas magistrorum discipulorumque).

Pada akhir abad ketiga belas, Paris telah menjadi ’ibu’ berbagai universitas serta ’ibu’ segala macam sains, yang mencakup semua universitas Abad Pertengahan di Eropa Utara, Inggris Raya, Jerman, Perancis Utara, dan sejumlah negara lainnya. Oxford, yang sering disebut ’putri tertua’ dari keluarga besar ini menjadi ’ibu’ universitas-universitas di Inggris.

Di dalam universitas-universitas inilah hasrat untuk mencari kebenaran itu berkembang dengan pesat. Orang yang berpendidikan, atau biasanya disebut master, adalah orang yang dapat mengemukakan pendapat sendiri, menganalisis, serta mengkritik argumen-argumen orang lain yang tidak logis. Sang master juga diharapkan dapat memberi komentar atas teks-teks filsafat yang diajarkannya.

Model para master di sini adalah Aristoteles, yang memberi komentar dan kritik atas pandangan para filsuf pendahulunya. Menjelang awal abad keempat belas, Aristoteles telah menjadi ’guru dari mereka yang berpengetahuan’ (the master of those who know). Maka bentuk pengajaran baru di universitas terdiri atas kuliah (lectura), berupa bacaan dan penjelasan atas teks standar tertentu serta debat (disputatio), yang merupakan diskusi publik berdasarkan tesis yang diajukan dengan argumen-argumen formal. Bentuk-bentuk pengajaran ini menghasilkan dua bentuk utama literatur ilmiah Abad Pertengahan, yakni buku komentar dan pertanyaan.

Dalam tulisan-tulisan mereka, para skolastik, yakni mereka yang melakukan studi atas karya-karya Aristoteles dan mencoba menggali kebenaran, juga mencoba mengumpulkan segala macam informasi dan memasukkannya ke dalam ensiklopedi atau summa. Tulisan-tulisan mereka bersifat sistematis dan mengacu pada proyek untuk menghasilkan pengetahuan obyektif.

Sebagaimana dalam pengajaran lisan, dalam tulisan pun mereka biasanya menggunakan metode disputasi untuk membantah pendapat-pendapat yang dianggap keliru, sebelum akhirnya mengajukan pendapat mereka sendiri. Teks Summa Theologiae dari Thomas Aquinas merupakan pengejawantahan konkret dari hasrat untuk mengejar kebenaran ini secara penuh dan obyektif. Metode skolastik inilah yang menjadi akar dari kultur akademik atau saintifik dalam institusi pendidikan seperti universitas dan menjadi standar yang harus dicapai oleh setiap (calon) master atau pengajar profesional. Ketika sains modern berkembang dalam abad keenam belas dan ketujuh belas, metode ini kemudian diganti dengan cara yang lebih empiris dan eksperimental. Akan tetapi, orientasinya tidaklah berubah, yakni untuk menemukan kebenaran.

Humanisme: Hasrat mengabdi masyarakat

Tradisi atau kultur pendidikan yang kedua, yakni humanisme Renaissance, berkembang di Italia sekitar akhir abad keempat belas sebelum akhirnya berkembang di Eropa Utara, kira-kira dua abad setelah tradisi skolastisisme bercokol di universitas-universitas. Kata ’humanisme’ di sini hendaknya tidak dilihat sebagai pandangan filosofis yang mengangkat konsern dan nilai-nilai kemanusiaan, melainkan sebagai sebuah gerakan budaya dan sastra tertulis yang menekankan dan mengembangkan studi literatur klasik.

Para tokoh humanis adalah kelompok profesional dalam bidang tata bahasa, retorika, puisi, sejarah, dan filsafat moral, atau yang biasa disebut studia humanitatis. Gerakan humanisme ini dimulai ketika para dictatores, yakni para pengajar seni menulis surat (ars dictaminis) dan ahli pidato Abad Pertengahan, mencoba mengembangkan keterampilan mereka dengan berpaling pada para pengarang klasik serta karya-karya mereka yang memiliki gaya bahasa yang elegan.

Untuk memahami karya-karya ini, mereka pun mulai mempelajari bahasa Yunani dan Latin klasik. Maka bahasa adalah inti dan akar dari gerakan humanisme Renaissance. Peradaban klasik ini kemudian menjadi tolok ukur standar dan model bagi para tokoh humanisme dalam menuntun segala macam kegiatan pendidikan dan budaya.

Sekurang-kurangnya ada dua ciri khas gerakan humanisme Renaissance. Ciri pertama dapat ditemukan dalam minat yang besar dan proyek untuk melanjutkan dan mengembangkan tradisi retorika dalam dunia Barat. Tradisi ini, yang umurnya sudah setua para Sofis Yunani, menekankan pentingnya peran para ahli pidato (orators atau rhetoricians) dalam zaman klasik, yakni mereka yang menyediakan bentuk paling umum pendidikan tinggi.

Dalam zaman klasik, orang cukup bisa membaca dan berbicara dengan fasih untuk dipandang sebagai orang yang berpendidikan. Para tokoh humanis mengembangkan sebuah keyakinan baru bahwa cara yang paling baik untuk berbicara dengan fasih adalah dengan meniru para ahli pidato klasik, khususnya Cicero (106-43 SM). Dalam hal ini Renaissance dapat dikatakan sebagai era Ciceronisme dalam mana studi dan peniruan terhadap gaya retorika Cicero sangat populer.

Dalam banyak karyanya, termasuk De Officiis (Mengenai Tanggung Jawab Publik), Cicero menekankan pentingnya kefasihan berbicara (eloquence): “Sebab, adakah hal lain yang lebih baik daripada kefasihan berbicara dalam membangkitkan kekaguman di antara para pendengarnya, harapan bagi orang yang sedang berkesusahan, atau rasa syukur bagi mereka yang bernasib baik?”

Para humanis setuju dengan apa yang diyakini Cicero, yakni keterampilan dan cara beretorika yang baik, yang selain menyentuh akal budi juga menggugah imajinasi dan emosi, akan membawa para pendengar ke arah tindakan yang positif. Sementara karya-karya retorikanya memuat teori, orasi-orasi Cicero, surat-surat, serta dialog-dialognya menjadi contoh konkret bagi banyak orang mengenai berbagai bentuk literatur prosa.

Secara khusus para humanis menaruh minat pada sintesa filsafat dan retorika dalam karya-karya Cicero. Semangat ini kemudian menjadi gagasan ideal bagi para humanis, yakni kombinasi antara kefasihan berbicara (eloquence) dan kebijaksanaan (wisdom), yang cukup banyak mewarnai corak literatur Renaissance.

Ciri khas kedua Humanisme Renaissance berkaitan erat dengan tujuan umum pendidikan humanistik sebagai persiapan atas tugas pelayanan publik. Yang ditanamkan di sini adalah keutamaan sivik (civic virtue). Dalam De Officiis, Cicero membangun relasi antara setiap individu dan seluruh komunitas umat manusia, dan secara khusus antara seorang warga negara dan negaranya: “Tidak ada relasi sosial yang lebih erat dan lebih intim daripada relasi yang menghubungkan kita semua dengan negara kita.”

Menurut Cicero, segala yang kita miliki, termasuk bakat dan keterampilan kita, harus dibagi-bagikan kepada orang lain demi perbaikan dan kesejahteraan seluruh masyarakat: “Seperti diungkapkan dengan penuh kekaguman oleh Plato, kita dilahirkan bukan untuk diri kita sendiri. Negara kita pun mengklaim bagian dari kita, demikian juga para sahabat kita…. Kita, sebagai manusia, juga dilahirkan untuk manusia lainnya, supaya kita dapat saling menolong satu sama lain. Dalam hal ini kita harus mengikuti alam sebagai petunjuk, dalam memberikan sumbangan bagi kebaikan umum melalui pertukaran tindakan baik (acts of kindness), dengan saling memberi dan menerima. Dengan keterampilan, ketekunan, dan bakat yang kita miliki, dapatlah kita merekatkan masyarakat manusia secara lebih dekat, dari pribadi ke pribadi.”

Cicero menekankan kewajiban sosial dari mereka yang terdidik serta pentingnya pengabdian mereka bagi kemanusiaan: “Kalau kebijaksanaan adalah keutamaan yang paling penting, dan memang begitu, itu berarti bahwa kewajiban yang berkaitan dengan kehidupan sosial adalah kewajiban yang paling penting.… Pengabdian itu lebih baik daripada sekadar pengetahuan teoretis, sebab studi dan pengetahuan mengenai alam semesta akan menjadi lumpuh dan rusak, seandainya tidak diikuti oleh hasil yang praktis.”

Menurut Cicero, pada akhirnya kebijaksanaan harus digunakan untuk melayani keadilan. Di sinilah keterampilan retorika dapat memainkan peranan yang sangat penting karena dapat digunakan untuk mempengaruhi orang untuk menghidupi sebuah kehidupan yang lebih berkeutamaan dan untuk menjadi warga negara yang baik dan peduli dengan kesejahteraan dan kebaikan negaranya.

Dalam zamannya Francesco Petrarch (1304-74), ekspatriat di Florence dan ahli studi pengarang klasik dan bahasa Latin terbesar dalam era Renaissance, mengembangkan gagasan Cicero dengan memperlihatkan tujuan praktis studi bagi umat manusia: “Untuk apa-saya tanya kepada Anda-kita mengetahui hakikat hewan berkaki empat, burung, ikan, dan ular, tetapi tidak tahu mengenai atau bahkan mengabaikan kodrat manusia, yang merupakan tujuan kita dilahirkan dan arah perjalanan hidup kita?”

Ia menggemakan pandangan Cicero bahwa pendidikan seharusnya diarahkan kepada pembentukan kepribadian peserta didik: “Filsuf etika yang benar dan guru keutamaan yang berguna adalah mereka yang maksud pertama dan terakhir mereka adalah membuat pendengar dan pembaca menjadi baik. Mereka adalah orang-orang yang tidak hanya mengajar apa itu keutamaan dan apa itu kejahatan serta mendengungkan ke dalam telinga kita kehebatan nama yang satu [yakni keutamaan] dan keburukan nama yang lain [kejahatan], melainkan juga menaburkan ke dalam hati kita, cinta akan yang terbaik (the best) dan keinginan yang kuat untuk memilikinya, dan pada saat yang sama kebencian terhadap yang terburuk (the worst) dan bagaimana cara menjauhinya.”

Para humanis sesudah Petrarch memeluk tujuan program pendidikan untuk menghasilkan pembicara cakap dan efektif yang akan mempengaruhi dan mendorong pembaruan moral dalam masyarakat tempat mereka tinggal. Pendidikan moral dilakukan antara lain dengan studi sejarah, sebab para humanis yakin bahwa orang dapat dan perlu belajar dari sejarah supaya tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Dalam hal ini studi mengenai humanisme Renaissance dewasa ini pada umumnya telah mengikis kesan Jacob Burckhardt, seorang pakar Renaissance Italia, bahwa para humanis adalah kaum intelektual miskin, individualis, suka akan kemasyhuran, tanpabanyakpengaruhdalammasyarakat.>sav<>up<10>res< Sebaliknya, kurikulum pendidikan para humanis pada umumnya bertujuan untuk membentuk pribadi yang cakap dengan mengembangkan kualitas moral serta kemanusiaan bagi pelayanan kepada orang banyak.

Visi dan orientasi pendidikan

Gambaran sekilas mengenai sejarah kedua gerakan pendidikan ini memperlihatkan kepada kita visi dan orientasi pendidikan yang berbeda. Pertama-tama, pendidikan dengan gaya skolastik cenderung bersifat abstrak dan spekulatif, sedangkan pendidikan humanistik bersifat praktis. Kemudian, pendidikan skolastik berfokus pada pengejaran kebenaran obyektif, sedangkan pendidikan humanistik, dengan fokus pada bahasa dan retorika, pada akhirnya lebih berorientasi pada usaha untuk mengabdi masyarakat banyak.

Dalam zaman Renaissance memang terdapat debat besar antara kedua gerakan dan kultur pendidikan ini yang, karena keterbatasan ruang, tentu saja tidak dapat dibahas di sini. Yang akan penulis lakukan adalah memberikan beberapa butir refleksi atas visi dan orientasi pendidikan mereka, yang kiranya dapat membantu kita memikirkan visi pendidikan di Indonesia.

Pertama, orientasi untuk mencari kebenaran. Keinginan untuk mendapatkan kebenaran, baik yang bersifat filosofis, saintifik, maupun religius, inilah yang mendorong para tokoh skolastik untuk mencari tahu dan mengumpulkan berbagai macam teks serta menyusun ensiklopedi.

Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa mencari kebenaran adalah tugas utama dan layak (proper) bagi seorang manusia. Di antara makhluk yang ada, hanya manusialah yang memiliki akal budi, yang memungkinkannya untuk berpikir, mendapatkan pengetahuan, dan menemukan kebenaran. Pendidikan merupakan sarana bagi manusia untuk mewariskan kebenaran yang sudah ditemukan dalam sejarah manusia kepada generasi berikutnya.

Yang patut direfleksikan di sini adalah apakah seluruh sistem dan program pendidikan kita memang diarahkan kepada usaha pencarian kebenaran. Adalah tantangan besar bagi para pendidik untuk menanamkan dalam diri siswa keberanian untuk mencari dan mengungkapkan kebenaran. Sangatlah berbahaya kalau sistem, program, dan orientasi pendidikan di negeri kita dikompromikan oleh motif-motif politik atau ekonomi. Yang terjadi adalah, seperti sudah banyak dikeluhkan, pembodohan masyarakat.

Kedua, kemandirian dan profesionalitas. Baik tradisi skolastisisme maupun humansime berakar pada teks. Dalam program pendidikan mereka, peserta didik diajar untuk menafsirkan dan memberi komentar. Yang ditekankan di sini, seperti pada seorang master, adalah kemandirian dan profesionalitas dalam mengungkapkan pandangan pribadi.

Metode pendidikan yang menekankan pada sekadar hafalan dan ketepatan menjawab sesuai dengan petunjuk jawaban yang ada jelas tidak mendukung pendidikan ke arah kemandirian. Cara semacam itu tidak merangsang siswa untuk berpikir sendiri dan tidak mempersiapkan mereka untuk membangun pendapat pribadi secara rasional dan bertanggung jawab. Bagaimanapun, pada akhirnya orang harus diajar untuk memberikan jawaban dan membuat keputusan sendiri, tidak melulu merujuk pada perintah dan petunjuk guru atau atasan.

Ketiga, pengabdian kepada publik. Para tokoh humanis yakin bahwa pendidikan pada akhirnya harus mengarahkan peserta didik pada pengabdian kepada masyarakat banyak. Alasannya adalah setiap manusia adalah makhluk sosial, yang secara hakiki terikat pada manusia lainnya; ia dilahirkan tidak untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain juga.

Menerapkan visi pendidikan yang demikian memang tidak mudah, terlebih ketika pendidikan ditempuh sekadar untuk mendapatkan gelar akademik dan dikejar supaya dapat membantu mendapatkan pekerjaan yang baik. Motif ekonomi pada peserta didik dalam mengejar pendidikan pada akhirnya hanya akan menyuburkan individualisme dalam masyarakat. Tantangannya di sini adalah menumbuhkan dalam diri siswa rasa keterikatan dengan negara dan masyarakat supaya selalu ada keinginan untuk memperbaiki situasi negara. Di tengah merosotnya nilai nasionalisme di negeri yang hampir masuk jurang karena korupsi ini, orientasi pelayanan kepada orang banyak patut mendapat perhatian serius.

Keempat, pendidikan hati. Berlainan dengan pendidikan skolastik yang cenderung menekankan pendidikan kognitif dan memuaskan rasa ingin tahu, pendidikan humanistik sangat memerhatikan pendidikan hati. Hal ini terlihat dalam penekanannya pada retorika sebagai sebuah metode untuk menggerakkan hati orang dan mengarahkannya pada tindakan positif.

Dalam pendidikan humanistik peserta didik lebih banyak diajak untuk meningkatkan keterampilan dan mengungkapkan diri dalam bahasa dan seni. Visi pendidikan yang memadai, selain memuat dimensi kognitif, tentunya harus juga mencakup dimensi afektif dan psikomotorik agar ada keseimbangan. Keputusan yang kita buat pada akhirnya haruslah didasarkan pada pertimbangan hati dan tidak sekadar pertimbangan murni rasional belaka.

Kelima, tekanan pada dimensi moral. Pendidikan humanistik secara hakiki menekankan cara-cara untuk hidup dengan baik (bene vivere). Oleh karena itu, pendidikan moral memegang peranan penting. Bersama dengan metode retorika, metode pendidikan ini dimaksudkan untuk mengembangkan kepribadian peserta didik dan supaya mereka akhirnya sungguh mencintai keutamaan (virtue) dan membenci kejahatan (vice).

Bagi para tokoh humanis, pendidikan mestinya membuat orang menjadi lebih bermoral dan bukan sekadar menjadi lebih pandai. Maka dalam kerangka pendidikan mereka, kasus STPDN dahulu yang menyangkut kekerasan dan penganiayaan terhadap sesama calon pemimpin rakyat merupakan hal yang sangat memalukan, terlebih karena mereka adalah calon-calon pengabdi rakyat yang semestinya memegang moralitas tinggi. Kegagalan mereka untuk menghormati hak dan martabat rekan-rekannya tentunya menimbulkan pertanyaan besar mengenai kepantasan mereka menjadi pemimpin rakyat.

Kiranya masih banyak butir refleksi yang dapat digali dari kedua gerakan dan kultur pendidikan ini. Butir-butir di atas pun tentunya masih dapat diperdalam lagi. Tulisan singkat ini diharapkan dapat meningkatkan ketajaman pandangan dan refleksi kita mengenai tujuan, visi, serta orientasi pendidikan di negeri kita, agar kita sungguh memberikan bekal dan mewariskan sesuatu yang penting dan bermanfaat bagi generasi selanjutnya.

Thomas Hidya Tjaya Staf Pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, Tulisan ini pernah dimuat di Harian Kompas

1) Lihat Paul Oskar Kristeller, Renaissance Thought and Its Sources, ed. Michael Mooney (New York: Columbia University Press, 1979), 20; 37.

2) Charles Homer Haskins, The Renaissance of the Twelfth Century (Cambridge: Harvard University Press, 1928), 369.

3) Kristeller (1979), 23; 31-2; 90-2; 98-9.

4) Cicero, De Officiis, trans. Walter Miller (Cambridge: Harvard University Press, 1961), II.19.66.

5) De Officiis, I.17.57.

6) De Officiis, I.7.22.

7) De Officiis, I.43.153.

8. Petrarch, “On His Own Ignorance and That of Many Others” dalam Ernst Cassirer, et al. The Renaissance Philosophy of Man (Chicago: The University of Chicago Press, 1956), 58-9. Lihat Copenhaver, Brian P, dan Charles B Schmitt. Renaissance Philosophy (Oxford: Oxford University Press, 1992), 27.

9) Petrarch (1956), 105.

10) Lihat bukunya, The Civilization of the Renaissance in Italy (New York: Harper & Row, 1958)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s